Search

Air Putih dan Gula Merah

Air putih sebagai sebutan untuk air minum yang bersih lazim kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal, yang kita sebut air putih itu tidak berwarna putih. Yang lebih tepat disebut air putih adalah air susu karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, yang disebut putih adalah warna dasar yang serupa dengan warna kapas. Putih air susu seperti kapas.
Menurut kamus yang sama, air adalah cairan jernih tak berwarna, tak berasa, dan tak berbau yang diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan yang secra kimiawi mengandung hydrogen dan oksigen. Selain itu, air juga berarti benda cair yang biasa terdapat di sumur, sungai, danau yang mendidih pada suhu 1000 celsius. Di kamus itu, disebutkan juga bahwa yang dimaksud dengan jernih adalah terlihat terang (tentang air); bening; bersih; tidak keruh. Kalu begitu, mengapa air minum disebut air putih, bukan air jernih, air bersih atau air saja?
Ternyata sebutan air putih ini lahir begitu saja tanpa kesepakatan bersama, kemudian diterima masyarakat tanpa catatan atau keberatan. Yang menarik, KBBI sendiri tak menolak sebutan air putih. Sebagai sebuah entri, air putih adalah air tawar yang dapat diminum atau air yang masih asli dan belum dicampur apa-apa. Masihkah anda tetap ingin menggunakan sebutan air putih?




Tanpa rasa curiga bahwa orang Indonesia buta warna, bagi saya terdengar aneh ketika kita menyabut gula kelapa, atau gula nyiur, atau gula jawa sebagai gula merah, padahal warna gula itu kecoklat-coklatan, bukan merah. Karena merah adalah warna dasar yang serupa dengan warna darah (juga menurut KBBI). Walaupun demikian, KBBI tetap mencantumkan gula merah sebagai entri, artinya frasa itu tidak ditolak.
Dalam kedua contoh diatas, warna menjadi tak penting karena itu kita mengabaikannya. Selama orang paham maknanya, warna tak perlu dipersoalkan. Bahas Inggris menyebut gula berwarna agak coklat itu sebagi brown sugar. Itu bukan urusan kita. Meski bukan urusan kita, brown sugar saya rasa lebih tepat. Namun dalam bahasa Indonesia saya lebih suka menyebutnya gula jawa.
Sebenarnya tak benar kalua orang kita disebut mengabaikan warna. Buktinya, cabai berwarna merah kita sebut cabai merah, begitu pula cabai hijau, bawang merah, bawang putih, kacang hijau dan lain-lain. Ketakajekan berbahsa seperti ini terjadi dalam berbagi bahasa. Tak hanya dalam bahasa Indonesia. Saya tak paham apakah ini dapat menyebabkan salah kaprah.
Yang pasti, kita tak dapat menyebutnya salah kaprah jika warna digunakan dalam arti kiasan. Sebagai kiasan, benda yang menggunakan warna memiliki makna khusus. Benang merah sama sekali tak berarti benang berwarna merah, tetapi memiliki makna lain: sesuatu yang menghubungkan beberapa ha; (factor) sehingga menjai satu kesatuan. Demikian pula benang putih, sebagai kiasan, ia tidak bermakna lain, kecuali: yang belum ternoda, seperti anak yang masih kecil.
Kompas, Jum’at 9 April 2010


comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Delete this element to display blogger navbar

 
© @xmorexto | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger